Unit Usaha Syariah Dongkrak Industri Properti

Oleh Admin
Rabu, 15 Jun 2022 11:54:59

UNIT usaha syariah (UUS), diyakini bisa mendongkrak industri properti.

Optimisme tersebut, timbul terkait rencana PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) yang akan mengakuisisi UUS PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) sebagai akses pembiayaan rumah.

Terlebih, permodalan BSI dan keahlian khusus UUS BTN akan meningkatkan layanan melalui skema KPR syariah.

Seperti dilansir dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per Februari 2022, pembiayaan KPR konvensional maupun syariah tumbuh 10,2 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), menjadi Rp574,87 triliun.

Persentase ini, terlihat pertumbuhan yang terbaik dalam lima tahun terakhir.

Kemudian, jika dirinci KPR syariah tumbuh di atas industri, sejak 2018 sampai Februari 2022 dan tercatat kenaikan lebih dari 10 persen yoy.

Tak hanya itu, ketika ditotal KPR mengalami kontraksi 1,2 persen yoy (2018), KPR syariah naik 19,1 persen yoy.

Meskipun demikian, pangsa pasar KPR syariah di Indonesia di tiga tahun belakangan ini belum banyak bergerak.

Sebelumnya, per Februari 2022, bank syariah umum (BUS) dan UUS berkontribusi hingga 18,3 persen terhadap total pembiayaan rumah dan apartemen, relatif sama dengan posisi 2020.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda memperkirakan bergabungnya BTN Syariah ke BSI dapat mendorong penetrasi KPR syariah di Indonesia lebih dalam.

Keahlian khusus UUS BTN yang dikombinasikan dengan skala bisnis BSI akan meningkatkan pangsa pasar pembiayaan kepemilikan rumah dan apartemen berbasis syariah.

"Memang (dalam waktu dekat) tidak akan seperti induknya BTN Syariah, tapi mungkin pangsa pasar KPR syariah bisa naik satu hingga dua persen tidak lama pasca-akuisisi,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Lebih lanjut dikatakan, BSI mengakuisisi UUS BTN merupakan langkah strategis untuk mencapai target masuk dalam daftar 10 bank syariah terbesar di dunia.

Aksi korporasi ini berpotensi juga mendongkrak aset calon bank BUMN syariah pertama di Indonesia itu menjadi lebih Rp300 triliun.

Dengan demikian, di dalam negeri, BSI akan menjadi bank terbesar keenam dari segi aset dan menyalip PT CIMB Niaga Tbk.

"Dengan bertambahnya aset, skala bisnis BSI akan membesar dan meningkatkan kapabilitas menyalurkan pembiayaan perumahan," imbuh Nailul.

Selain mendorong KPR syariah, konsolidasi UUS BTN ke BSI juga akan mendorong penyaluran KPR bersubsidi.

Mengutip data BP Tapera, per Mei 2022, penyaluran KPR berskema FLPP tersebut didominasi oleh BTN, yakni sebesar 56,09 persen.

Selanjutnya diikuti oleh BTN Syariah yang berkontribusi 11,38 persen.

BSI berada di urutan keempat setelah Bank BJB, dengan sumbangsih 2,78 persen.

Terlebih, melihat dari sisi aset dan likuiditas BSI, dengan rencana strategis tersebut, maka penyaluran KPR FLPP bagi masyarakat berpotensi akan lebih kuat lagi.