Pandemi Covid-19, Mengubah Perilaku Konsumen Properti

Oleh MinPro
Senin, 05 Jul 2021 19:57:30

JAKARTA - Pandemi Covid-19 memang menciptakan normal baru yang banyak mengubah perilaku manusia, termasuk memunculkan tren anyar di tengah-tengah konsumen properti. Sentimen negatif terhadap pasar apartemen semakin kuat, sementara pasar rumah tapak terus melambung di tengah pandemi. 

Sejumlah pakar properti menyebut konsumen memang kebanyakan lebih memilih rumah tapak sebagai pilihan hunian aman pascapandemi.

Executive Vice President Nonsubsidized Mortgage & Consumer Division Bank BTN Suryanti Agustinar menyatakan konsumen semakin senang punya rumah tapak yang jauh dari Jakarta lantaran bisa kerja dari rumah alias work from home (WFH). 

Meskipun jauh, konsumen tetap mencari wilayah dengan fasilitas publik dan akses transportasi yang mumpuni, seperti pusat perbelanjaan, sekolah, stasiun, halte, dan lain-lain. 

Selain itu, para pemburu properti pun semakin mempertimbangkan kualitas lingkungan dan kesehatan penghuni rumah. 

Tidak sedikit konsumen properti yang kini mulai mencari hunian dengan jalur sepeda, jogging track maupun lapangan untuk berolah raga setiap harinya.

Tren seperti ini sangat terasa di kota-kota di Jabodetabek, yang jaraknya tidak begitu jauh dari pusat Jakarta, sekitar 20-30 kilometer.

Kota Tangerang, Tangerang Selatan, Depok, dan Bekasi termasuk ke dalam kategori kota jarak menengah di Jabodetabek. Keempat wilayah tersebut merasakan situasi yang hampir serupa di tengah pandemi Covid-19.

Sementara itu, Kota Depok sempat mengalami penurunan pada awal pandemi Covid-19 walaupun pada akhirnya mencatat kenaikan yang cukup besar. Per kuartal pertama 2021, indeks harga rumah tapak di Kota Depok mencetak peningkatan sebesar 7,8 persen dibanding kuartal sebelumnya dan peningkatan sebesar 10,7 persen dibanding tahun lalu pada kuartal yang sama. 

Kebalikan dari Kota Depok, indeks harga rumah tapak di Kota Bekasi justru melambat setelah sempat melejit pada awal pandemi. 

Pada kuartal kedua 2020 terjadi kenaikan sebesar 7,8 persen secara kuartalan, tapi merosot sehingga turun 2,5 persen secara kuartalan pada kuartal keempat 2020. Per kuartal pertama 2021, indeks harga rumah tapak di Kota Bekasi turun 0,2 persen ketimbang kuartal sebelumnya, tetapi naik 6,8 persen secara tahunan. 

Adapun indeks harga rumah tapak di Kota Tangerang Selatan tetap meningkat selama pandemi Covid-19 meskipun menjadi yang paling lambat dibanding Kota Tangerang, Depok, atau Bekasi. Per kuartal pertama 2021, hanya terjadi kenaikan sebesar 2,1 persen secara kuartalan dan 3 persen secara tahunan. 

Kendati demikian, secara umum indeks harga rumah tapak di Kota Tangerang, Tangerang Selatan, Depok, dan Bekasi mengalami peningkatan saat pandemi tiba.

Di antara keempat kota yang berjarak menengah dari pusat Jabodetabek itu, Kota Depok menjadi wilayah yang paling disukai para pemburu properti.