Benarkah Denda Pinalti KPR bisa Nego? Begini Penjelasannya

Oleh MinPro
Rabu, 29 Jun 2022 16:26:43

BENARKAH denda pinalti ketika ingin melakukan pelunasan sisa Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bisa di nego lagi kepada pihak bank?

Property Seekers pastinya penasaran kan!

Nah, oleh kerana itu simak terus penjelasan terkait denda pinalti tersebut pada artikel ini sampai tuntas ya.

Pada umumnya, setiap debitur atau nasabah memiliki tenor tersendiri disetiap pengajuan KPR.

Namun, seiring perjalanan waktu Property Seekers tak pernah menduga jika akan mendapat bonus atau rejeki mendadak dikemudian hari.

Oleh karena itu, tak ada salahnya Property Seekers mengalokasikan rejeki tersebut untuk melunasi sisa piutang pada KPR yang masih ditanggung.

Meskipun demikian, biasanya ada klausul di pernjanjian bank bahwa salah satu persyaratan pelunasan yaitu harus membayar denda pinalti dari sisa pokok pinjaman.

Bahkan, jumlah nilai denda juga sudah ditentukan pada perjanjian tersebut hingga 7 persen.

Namun, ternyata nasabah atau debitur bisa melakukan negoisasi ulang kepada pihak bank terkait denda pinalti tersebut.

Kendati demikian, kesepakatan maupun kebijakan hasil dari negoisasi tersebut sangat bergantung pada masing-masing kantor cabang bank.

Nah seperti apa tahapannya? yuk simak penjelasan sebagai berikut ini;

1. Perhitungan Bunga KPR

ILM-3
Dalam pinjaman KPR, umumnya berlaku dua tingkat bunga. Yakni bunga tetap (fixed) dan bunga mengambang (floating).

Suku bunga tetap biasanya di awal-awal untuk menarik minat orang mengambil KPR.

Sayangnya, tingkat bunga tetap diberikan hanya jangka waktu tertentu. Misal 2 tahun atau 3 tahun.

Kemudian sisanya berlaku bunga mengambang. Besarannya berfluktuasi sesuai suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau 7-Day Reverse Repo Rate dan penyesuaian dari pihak bank.

Kalau sebagai debitur melunasi sisa KPR sebelum tenor berakhir misalnya satu tahun terakhir, dengan tingkat bunga yang berlaku saat itu.

Tetapi justru tekor, karena bisa saja di satu tahun tenor tersebut BI menurunkan suku bunga acuan dan pihak bank memangkas bunga KPR.

Untuk itu, sebelum melunasi pinjaman KPR, sebaiknya perhatikan tren suku bunga BI dan perbankan.

Agar untung, bukan buntung. Atau sebelum membeli rumah, pertimbangkan dengan matang dengan memilih KPR Syariah.

Sebab, KPR Syariah tidak menerapkan sistem bunga. Sehingga besaran cicilan KPR tetap sampai tenor selesai.

2. Biasa Pinalti

pilih_lokasiproperti
Melunasi utang sebelum waktunya bisa menjauhkan debitur dari kredit macet. Tapi cara ini ternyata merugikan pihak bank. Contohnya harga rumah Rp 300 juta, DP 15 persen = Rp 45 juta. Pokok kredit = Rp 345 juta. Tenor 15 tahun (180 bulan).

Asumsi suku bunga 10,50 persen. Maka cicilan per bulan = Rp 3,02 juta. Untuk cicilan KPR sebesar Rp 3,02 juta, maka dalam kurun waktu 15 tahun, totalnya sebesar Rp 543,6 juta. Lebih besar Rp 243,6 juta dibanding harga rumah yang dibeli.

Jika terus mencicil KPR sampai jatuh tempo selesai, bank bisa mendapatkan ratusan juta rupiah.

Sedangkan bila pelunasannya lebih cepat, tentu saja keuntungan bank berkurang. Maka dari itu, debitur dikenakan denda atau pinalti sebagai bentuk ganti rugi atas hilangnya keuntungan tersebut. Besaran biaya pinalti berbeda-beda, tergantung bank masing-masing.

Bahkan tidak semua bank memberlakukan pinalti. Ada bank yang justru membebaskan biaya tersebut bila debitur sanggup melunasi KPR dalam kurun waktu yang sudah ditentukan bank.

3. Keuangan

pembayaran_dp
Memang sih, melunasi utang dengan cepat sangat bagus. Tetapi kalau justru membahayakan keuangan bagaimana? Mengabaikan tabungan dan dana darurat demi membayar semua utang, merupakan cara mengatur keuangan yang salah.

Gaji atau penghasilan dihabiskan untuk melunasi utang. Ya, kalau masih bekerja dan gaji aman.

Bagaimana jika tidak? Apalagi di masa resesi sekarang ini. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depan. Bisa saja kena PHK atau pengurangan gaji.

Sementara sama sekali tidak punya tabungan dan dana darurat. Utang satu lunas, tetapi akan mengajukan utang baru untuk menutup kebutuhan hidup.

Sama saja bohong kan. Apabila ingin melunasi KPR dengan cepat, konsekuensinya harus mencari penghasilan tambahan, hidup hemat dan sederhana, bukan pelit. Alokasi bujetnya, sisihkan 20 persen dari gaji setiap bulan untuk membayar cicilan.

Sedangkan pemasukan dari kerja sampingan ditabung untuk melunasi utang. Dengan demikian, tetap punya alokasi anggaran dana darurat dan tabungan di luar pelunasan KPR untuk berjaga-jaga.

 

 

Kunjungi juga event terbesar di Indonesia Properti Expo mulai 13- 21 Agutus 2022 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan.

Ikuti juga informasi terupdate hanya di sosmed IPEX;

Instagram@indonesiapropertiexpo
Tiktok@indonesiaproeprtiexpo