Banyak yang Tak Paham! Inilah Perbedaan Uang Booking dan Reservasi !

Oleh MinPro
Jumat, 01 Okt 2021 06:21:44

JAKARTA - Ternyata banyak yang tak paham terhadap perbedaan uang booking fee dan reservasi. Sehingga, ketika calon konsumen properti yang salah mengucapkan diantara kedua kalimat tersebut kepada sales pengembang bisa-bisa uang menjadi hangus atau tidak dapat direfund kembali.

BACA JUGA: Cara Pintar Agar Uang Booking Tak Hangus

Pengalaman itu sering terjadi, lantaran sales properti juga tak menjelaskan secara rinci arti kedua istilah tersebut. Nah, seperti apa sih pemahaman booking fee dan uang reservasi? Yuk simak ulasannya sebagai berikut.

Secara harfiah, booking fee merupakan pembayaran dalam bentuk sejumlah uang sebagai komitmen memesan unit properti tertentu. Pada kamus istilah Perumahan terbitan Direktorat Jenderal Pembiayaan Perumahan (2017), menjelaskan booking fee adalah bukti keseriusan pembeli untuk membeli rumah. 

Namun, pada ketentuan pengembang uang booking fee bisa hangus jika pemohon pembelian rumah atau pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) menyatakan mundur secara sepihak (calon konsumen yang mundur). 

BACA JUGA: Tak Perlu Terburu-Buru Bayar Booking, Ini Alasannya!

Kendati demikian, uang booking fee bisa direfund bila pengajuan KPR ternyata ditolak oleh pihak bank karena alasan tertentu. Pemahaman seperti itu, banyak orang yang belum mengetahui sehingga mereka sangat enggan membayar uang booking karena timbul asumsi uang booking fee pasti hangus.

Lain halnya dengan uang  reservasi. Istilah ini belakangan diterapkan developer atau pengembang perumahan dalam pemasaran properti. Istilah reservasi ditujukan bagi calon konsumen yang masih ragu-ragu dalam menentukan pilihan unit rumah. Biasanya, reservasi dimanfaatkan untuk ingkatan sementara agar calon konsumen bisa meyakinkan diri terhadap pilihannya.

BACA JUGA: Uang Booking Bisa Refund, Ini Syaratnya!

Uang reservasi bisa direfund 100% tanpa syarat. Kapanpun konsumen bisa ambil kembali uangnya pada developer tersebut. Kendati demikian, penerapan reservasi juga menggunakan deadline. Misalnya, terhitung sejak reservasi konsumen mempunyai waktu 1 pekan. Setelah itu, konsumen harus benar-benar menentukan pilihannya pada unit rumah yang di inginkan atau mundur.

Apabila, konsumen tetap berlanjut untuk beli rumah tersebut, maka akan dinaikan setatusnya dari reservasi menjadi booking. Perlu dipahami, selama reservasi pihak developer belum melakukan proses pemberkasan atau masuk pada catatan pembelian. Namun setelah reservasi berubah menjadi booking fee, maka pihak pemasaran akan meneruskan untuk proses pengajuan KPR.