Tren Pasar Properti Lebih Berpihak pada Konsumen

Tren Pasar Properti Lebih Berpihak pada Konsumen image
Apalagi, akurasi tren pasar tersebut dibuktikan pada dinamika yang terjadi di pasar properti di Indonesia.
JAKARTA, RABU (22/4/2020) - Terkait dampak pandemi Covid-19, ternyata diikuti oleh tren pasar properti yang lebih berpihak pada konsumen atau saat yang menguntungkan bagi pembeli. Apalagi, akurasi tren pasar tersebut dibuktikan pada dinamika yang terjadi di pasar properti di Indonesia. Terlebih, hasil analisis dari 400.000 listing properti dijual dan disewa dari seluruh Indonesia, terdapat 17 juta halaman yang dikunjungi 5,5 juta pencari properti disetiap bulannya. Selama tiga tahun terakhir dan juga tahun ini, momentum Ramadan dan Lebaran yang berlangsung pada kuartal kedua tiap tahunnya memperlihatkan tren penyesuaian harga yang cenderung seragam. Catatan harga properti pada kuartal kedua 2017 hingga 2019, indeks menunjukkan harga properti terus mengalami kenaikan, yaitu sebesar 1,07 persen pada Q2 2017, pada Q2 2018 sebesar 1,14 persen dan pada Q2 2019 sebesar 2.17 persen. Secara historikal, setiap bulan Ramadan dari tahun ke tahun penjualan properti juga relatif cenderung turun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Pola ini terbentuk dari kebiasaan para calon pembeli yang akan menunda melakukan transaksi hingga satu bulan setelah Lebaran, dan polanya akan naik lagi hingga mendekati tahun baru. Apalagi seperti saat ini sedang berlangsung pandemi Corona maka penjualan properti akan semakin turun dibandingkan periode Ramadan sebelumnya. Tren pasar properti, bisa dimanfaatkan para pencari properti untuk mendapatkan rumah dengan harga terbaik. Pada periode ini, pasar properti akan berpihak kepada konsumen. Sehingga daya tawar dari pengembang cenderung lebih lemah terhadap pembeli, baik itu untuk ditinggali maupun sebagai investasi. Pengembang biasanya menawarkan banyak promo, bonus, serta kemudahan-kemudahan lainnya oleh karena itu pembeli disarankan untuk bernegosiasi dengan penjual agar bisa mendapatkan harga yang kompetitif. Pasar properti menengah bawah juga akan terpengaruh inflasi yang terjadi sepanjang periode Ramadan.

Fenomena dan tren meningkatnya inflasi di bulan Ramadan bukanlah hal baru karena telah terjadi dari tahun ke tahun. Periode Ramadan akan menaikkan ekspektasi inflasi secara tradisional karena tingginya permintaan bahan kebutuhan pokok dari masyarakat, karena adanya pola konsumsi yang berbeda di periode ini hingga satu minggu setelah Lebaran. Tapi kondisi tersebut tidak terlalu berdampak pada kelas menengah atas. Pasar inilah yang bisa disasar pengembang dengan strategi berbeda. Taktik pengendalian inflasi yang bisa dilakukan pemerintah adalah pada harga makanan, bila mampu dikendalikan, inflasi bisa dijaga di angka yang relatif stabil. Keberadaan pasar non-tradisional juga secara alamiah dapat mengendalikan harga. Kemudian, membaiknya industri properti di tanah air bisa terwujud dengan harapan, pandemi Corona segera selesai sehingga perekonomian dapat segera bangkit kembali. Beberapa prediksi memperkirakan ekonomi mulai bergairah lagi di akhir tahun.

Apalagi ditambah data terakhir menunjukkan pelemahan indeks sehingga bisa dimanfaatkan bagi yang ingin berinvestasi di bidang properti. Ditengah pandemi Corona, apalagi dengan adanya penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di kawasan Jabodetabek bisa mengurangi pergerakan mobilitas masyarakat dan pertemuan tatap muka, para pelaku industri properti tetap bisa aktif menjalankan bisnis propertinya dengan memanfaatkan dukungan teknologi yang semakin canggih. Jika kondisi normal para pencari properti bisa langsung menuju target hunian yang menjadi incaran, kini mereka bisa memanfaatkan portal properti untuk mendapatkan informasi dasar dalam pencarian properti.