Strategi Beli Properti Selama Masa Pandemi Covid-19

Strategi Beli Properti Selama Masa Pandemi Covid-19 image
Pasalnya, tak sedikit pengembang yang terus mencari solusi agar minat pembeli terus menggeliat selama masa Pandemi Covid-19.
JAKARTA, SELASA (5/5/2020) - Ditengah masa pandemi Covid-19, ternyata tak sepenuhnya bisa menyurutkan pasar properti di Indonesia. Pasalnya, tak sedikit pengembang yang terus mencari solusi agar minat pembeli terus menggeliat selama masa Pandemi Covid-19. Lalu, bagaimana strategi beli properti selama pandemi? Richard Andrew, SE, MM Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tarumanagara menjelaskan, paket bundling dengan interior rumah menjadi strategi pertama. Langkah ini sangat dibutuhkan generasi milenial yang notabene merupakan pasar terbesar di sektor properti. Kemudian, yaitu jarak pemukiman dengan pusat perkantoran atau pusat perindustrian harus relatif dekat atau mudah diakses dengan kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum. Selanjutnya yaitu, modernisasi khususnya terkait digitalisasi dari fitur yang terdapat pada rumah mutlak diperlukan. Tiga fakta itu bisa dijalankan dengan catatan, para pengembang harus memperhatikan daya beli masyarakat secara umum. Di sinilah peran semua pengembang dan investor di sektor properti untuk bisa menahan laju kenaikan harga menjadi lebih rasional. Jika mengabaikan itu, semua pengembang dan investor akan merasakan beratnya arus kas dalam jangka lebih panjang karena tingkat okupansi yang diprediksi semakin lama semakin turun. Di negara yang lebih maju saja, sekarang jumlah penyewa lebih banyak ketimbang jumlah pembeli properti. Untuk pengadaan ruang baru ini sebenarnya sudah dipikirkan oleh pemerintah dengan membangun ibu kota baru. Harus dipikirkan pengembangan proyek reklamasi dan pembebasan lahan yang lebih humanis. Akan lebih sempurna saat pengadaan ruang baru ini juga mengakomodasi pelestarian lingkungan hidup di tengah modernisasi area tersebut. Lingkungan hidup yang bersinergi dengan alam mutlak harus dipikirkan oleh pemerintah dan pengembang properti. Karena yang terjadi saat ini, hampir semua kota besar mengalami krisis menyempitnya ruang terbuka hijau (RTH). Lihat saja statistik pandemi secara global yang lebih banyak menghantam perkotaan besar dengan akses RTH yang minim. Peran pemerintah dan inisiatif pengembang properti sangat diperlukan untuk membantu mengelola dan mengembangkan RTH. Sementara, untuk penggunaan ruang yang semakin sedikit, pengembang harus mulai memikirkan siasat optimalisasi. Saat ini, ukuran rumah tapak yang paling cocok untuk pasangan muda menengah atas adalah rumah dua lantai bertipe 6x10 meter persegi atau 6x12 meter persegi dengan tiga kamar. Sedangkan ukuran apartemen ideal untuk kalangan menengah atas mencakup tiga kamar, serta untuk pasangan muda kelas menengah bawah adalah rumah susun dengan dua kamar. Bagaimana jika masih sendiri? Hunian dengan kamar lebih dari satu unit bisa dimanfaatkan untuk fungsi lain seperti ruang belajar, bekerja atau berdoa. Jika rumah tersebut ditinggali oleh sebuah keluarga, tentu saja persiapan ruang untuk anak juga diperlukan dan bagi sebagian kalangan menengah atas keberadaan kamar tersendiri bagi asisten rumah tangga (ART) menjadi kebutuhan yang tak terelakkan. Berbeda dengan era terdahulu, banyak pasangan muda enggan memiliki rumah yang terlalu besar karena memikirkan biaya perawatan dan sedikitnya waktu tinggal mereka. Lalu terakhir, untuk perubahan gaya hidup dan terutama setelah muncul pandemi global ini, maka setiap pengembang properti harus memikirkan tiga hal. Pertama, rumah sebagai tempat peristirahatan sementara dengan kelengkapan fasilitas mumpuni, termasuk akses internet tanpa batas. Kedua, sebuah kamar tidur yang dilengkapi fasilitas cukup lengkap untuk mengisolasi diri. Terakhir, perlu dipikirkan jasa serba praktis dalam area perumahan seperti minimarket, tempat cuci kendaraan, rumah makan sesuai anggaran dan area olahraga bersama. Jika semua hal di atas diperhatikan dengan baik oleh semua pihak, niscaya sektor properti akan kembali menggeliat.