REI Optimis Transaksi Properti masih Normal

REI Optimis Transaksi Properti masih Normal image
Memang beberapa unit (properti) menengah ke atas itu harganya agak naik, pembeliannya kan barang-barangnya impor. Tapi rumah sederhana tetap (harga)
JAKARTA, KAMIS (26/3/2020) - Dibalik mewabahnya pademi virus corona yang menimpa Indonesia, para pengembang yang tergabung dalam asosiasi Real Esate Indonesia (REI) optimis transaksi properti masih berjalan normal. Kendati, untuk mengurangi penyebarannya, Pemerintah memberlakukan sejumlah kebijakan. Namun, dalam kebijakan-kebijakan tersebut berdampak surutnya aktivitas ekonomi.

Para peritel hingga pusat perbelanjaan menutup tokonya. Namun demikian, masih ada optimisme untuk sektor properti. Menurut Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Totok Lusida, meski Indonesia saat ini sedang menghadapi wabah Covid-19, harga properti bisa dibilang masih normal. Bahkan transaksinya tidak berubah. "Memang beberapa unit (properti) menengah ke atas itu harganya agak naik, pembeliannya kan barang-barangnya impor. Tapi rumah sederhana tetap (harga)," ujar Totok, di Jakarta, belum lama ini.

Secara terpisah, Direktur Utama PT Kesuma Agung Selaras I Wayan Madik Kesuma juga merasakan dampak virus corona.“Dampaknya cukup signifikan, ada penurunan kunjungan ke proyek atau event yang kita adakan. Semoga pemerintah bisa menangani secara cepat wabah ini, sehingga masyarakat tak perlu resah saat ingin bepergian ke lokasi proyek,” katanya. Menurutnya, Kondisi ini membuat rupiah yang tengah stabil, anjlok kembali terhadap dollar AS. Tak hanya itu, corona membuat perekonomian dunia diprediksi mengalami perlambatan -1,5 persen. Dengan begitu, ekonomi dunia juga diproyeksi turun 0,9 persen. Wayan menambahkan, dampak corona membuat pasar saham dan obligasi terpengaruh signifikan. Meski ditempa sejumlah kondisi negatif, tetapi hal ini tidak langsung berdampak negatif ke sektor properti.

Memang, corona membuat ritel dan perhotelan mengalami guncangan. Misalnya okupansi hotel mengalami penurunan. Selain itu, pusat perbelanjaan pun mengalami sepi pengunjung. Masyarakat masih khawatir dengan wabah ini dan membuat beberapa peritel menutup tokonya. Wabah ini dinilai tidak terlalu memengaruhi penjualan properti. Menurutnya, corona hanya memberikan dampak terhadap pengembang yang menjual properti untuk asing. Akan tetapi, jika kondisi ini terus berlangsung, maka suplai produk akan terhambat. "Sehingga beban bakal bertambah dan margin semakin menipis," ucap Ishak. "End user" naik Dia menambahkan, meski masyarakat tengah mengahadapi corona, namun hal ini tidak mengurangi minat konsumen end user untuk membeli properti. Wayan menambahkan, jika end user memiliki keperluan, maka mereka akan membelinya. Apalagi saat ini komposisi pasar pembeli properti berubah. Sebelum 2010, porsi konsumen properti seimbang antara investor maupun end user. Namun sekarang, sebanyak 70-80 persen konsumen didominasi oleh end user. Sedangkan 20-30 persennya merupakan investor. Keyakinan tersebut ditambah dengan sejumlah insentif yang diberikan oleh Pemerintah.

Insentif tersebut berupa pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penghasilan ( PPh) Pasal 22, prosedur pengurusan pajak. Insentif-insentif lainnya adalah simplifikasi atas prosedur PPh penjualan tanah dan bangunan dari 15 hari menjadi tiga hari. Kemudian untuk properti golongan super mewah, pemerintah juga memberikan insentif peningkatan batasan hunian yang dikenakan PPh dan PPNBM dari Rp 5 miliar hingga Rp 10 miliar menjadi Rp 30 miliar hingga relaksasi Loan to Value (LTV). Terakhir, Pemerintah memberi dua stimulus cicilan rumah bersubsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebagai dampak pandemi Covid-19. Stimulus pertama adalah subsidi selisih bunga selama 10 tahun. Kemudian bantuan pembayaran uang muka anggaran untuk pembelian rumah bersubsidi. "Corona enggak bakal long-term. Cuma sekarang bagaimana supaya tidak menyebar," pungkasnya.