Pandemi Corona, Ini yang Harus Dilakukan Pelaku Bisnis Properti

Pandemi Corona, Ini yang Harus Dilakukan Pelaku Bisnis Properti image
Tren pertumbuhan properti sebenarnya sudah terlihat sejak akhir tahun lalu
JAKARTA, KAMIS (2/4/2020) - Tren pertumbuhan properti sebenarnya sudah terlihat sejak akhir tahun lalu dan diperkirakan akan terus menguat hingga akhir tahun 2020 ini. Sayangnya, merebaknya pandemi Corona atau (Covid-19) ikut menghambat laju sektor ini. Commercial & Business Development Director AKR Land, Alvin Andronicus mengungkapkan lebih luas secara makro, pandemi Corona telah menghambat ekonomi secara global.

Apalagi dengan diberlakukannya pembatasan transportasi, ekspor/impor, hingga lockdown di beberapa negara. Banyak produk kebutuhan dalam negeri yang masih diimpor dari berbagai negara, terutama Cina. Bahkan beberapa material untuk sektor properti dan industri turunannya juga berasal dari China, sehingga tentu akan berdampak pada bisnis ini. “Jadi secara mikro di Indonesia juga pasti terdampak. Makanya pemerintah kita memberikan banyak stimulus, seperti pelonggaran pajak, bunga bank yang diturunkan, dan lainnya. Karena bagaimanapun, secara ekonomi, target pencapaian Indonesia juga pasti akan turun, tidak lagi di 5 persen, pasti turun, mungkin di 4,5 persen,” ujar Alvin.

Tidak hanya kepada konsumen, stimulus yang sama juga harusnya diberikan kepada pengembang, terutama kelonggaran di perbankan, seperti bunga bank yang lebih ringan atau masa pinjaman diperpanjang. Alvin memrediksi, imbas dari pandemi Corona ini akan lebih terasa sekitar Mei 2020 hingga akhir tahun mendatang. Dimana saat itu harga material yang akan naik dan terpaksa harga unit juga akan terkerek naik. Namun demikian, kata dia, peluang bisnis di sektor properti akan tetap ada, karena properti juga merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Apalagi sampai saat ini juga kekurangan pasokan masih banyak. “Saat ini publik masih fokus kepada parahnya Covid-19. Apalagi pergerakan kurs dolar juga sempat naik ke level Rp17.000. Sehingga mungkin ini juga akan mempengaruhi user punya buying power. Jadi pasar masih wait and see and keep cash money better dan invest,” pungkas Alvin.