Jarang Bikin Terobosan, Harga Properti Naik 1,77% di 16 Kota

Jarang Bikin Terobosan, Harga Properti Naik 1,77% di 16 Kota image
Permintaan hampir stabil. Menurut Bank Indonesia, penjualan properti residensial naik sedikit 1,19% pada Q4 2019 dari tahun sebelumnya, penurunan tajam dari pertumbuhan 13,95% pada kuartal sebelumnya.
JAKARTA, SELASA (14/4/2020) - Kendati jarang bikin terobosan baru, namun harga rumah ditengah pasar properti di Indonesia khususnya pada 16 kota besar mengalami kenaikan hingga 1,77% selama 2019. Indeks harga properti, seperti yang dilansir GlobalPropertiGuide.com, menyebutkan Bank Indonesia, setelah mengalami kenaikan hingga 2,95% (2018), 3,5% (2017), 2,38% (2016), 4,62% (2015), dan 6,29% (2014). Kendati demikian, jika disesuaikan inflasi sebenarnya harga properti turun. Apalagi pada kuartal terakhir, harga properti residensial naik 0,3% q-o-q sedikit (disesuaikan inflasi 0,19%). Tujuh belas dari 18 kota besar di Indonesia melihat harga properti nominal naik pada tahun 2019. Namun, ketika inflasi dipertimbangkan, hanya kota Medan yang benar-benar mencatat kenaikan nilai 4,53% selama 2019. Di Jakarta, harga apartemen strata title naik 3% selama 2019 menjadi rata-rata Rp34,8 juta (US $ 2.130) per meter persegi (sq. M), menurut Colliers International. Permintaan hampir stabil. Menurut Bank Indonesia, penjualan properti residensial naik sedikit 1,19% pada Q4 2019 dari tahun sebelumnya, penurunan tajam dari pertumbuhan 13,95% pada kuartal sebelumnya. Secara triwulanan, penjualan sebenarnya menurun 16,33% pada Q4 2019. Ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,02% pada tahun 2019, sedikit lebih lambat dari pertumbuhan 5,17% tahun sebelumnya, karena investasi dan ekspor melemah, menurut Statistik Indonesia. Bank Indonesia belum lama ini telah memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi 2020 menjadi 5% - 5,4%, dari 5,1% - 5,5%. Pada bulan Maret 2020, pemerintah Indonesia meluncurkan paket stimulus darurat kedua senilai US $ 8 miliar, dalam upaya melindungi ekonomi dari dampak buruk wabah koronavirus. Ini memberikan serangkaian insentif fiskal dan non-fiskal untuk sektor manufaktur dan usaha kecil dan menengah. Ini mengikuti paket stimulus US $ 725 juta yang diumumkan Februari 2020 lalu untuk mendukung pariwisata, industri penerbangan, dan pasar properti. Paket ini mencakup dana US $ 104 juta untuk program perumahan bersubsidi, yang diharapkan dapat menutupi pembiayaan untuk 175.000 rumah baru.